SKENARIO C BLOK 6 :
Nyonya Hariyani, wanita berusia 42
tahun, berbadan gemuk mengunjungi dokter keluarga dengan keluhan mata yang
berwarna kekuningan. Gejala ini disertai dengan warna air seni yang berwarna
lebih kuning dari biasanya. Empat bulan sebelumnya Nyonya Hariyani sering
merasa nyeri di perut kanan atas, kadang-kadang disertai nyeri di ujung bawah
belikat kanan disertai dengan nausea, meteorismus dan steatorrhea. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan sclera ikterik dan tanda Murphy positif. Hasil pemeriksaan
USG memperlihatkan adanya batu pada saluran empedu. Dokter menyimpulkan Ny.
Haryani menderita obstruktif jaundice karena koledokolitiasis
I.
KLARIFIKASI
ISTILAH
1. Nausea
: sensasi yang tidak
menyenangkan yang secara samar mengacu pada
epigastrium dan abdomen dengan kecenderungan untuk muntah
2. Meteorismus
: terdapatnya udara dalam
saluran usus dan lambung
3. Steatorrhea
: jumlah lemak yang
berlebihan pada feses
4. Sklera
ikterik : warna kekuningan pada
sclera/ikterus
5. Tanda
Murphy : cara pemeriksaan penunjang untuk diagnose
koledokolitiasis
6. Obstruktif
Jaundice : ikterus yang disebabkan oleh penghambatan aliran empedu
7. Koledokolitiasis
: batu di dalam saluran empedu
8. USG
: gambaran struktur dalam tubuh dengan
mencatat gema pulsa gelombang ultrasonik yang diarahkan dalam jaringan yang
dipantulkan oleh bidang jaringan di mana terdapat perubahan densitas
II.
IDENTIFIKASI
MASALAH
|
KENYATAAN
|
KESESUAIAN
|
KONSEN
|
|
Nyonya Hariyani, wanita berusia
42 tahun, berbadan gemuk mengunjungi dokter keluarga dengan keluhan mata yang
berwarna kekuningan
|
Tidak Sesuai Harapan
|
V
|
|
Warna air seni Ny. Hariyani berwarna lebih kuning
dari biasanya.
|
Tidak Sesuai Harapan
|
V
|
|
Empat bulan sebelumnya Nyonya Hariyani sering
merasa nyeri di perut kanan atas, kadang-kadang disertai nyeri di ujung bawah
belikat kanan disertai dengan nausea, meteorismus dan steatorrhea
|
Tidak Sesuai Harapan
|
VV
|
|
Pada pemeriksaan fisik ditemukan sclera ikterik
dan tanda Murphy positif
|
Tidak Sesuai Harapan
|
V
|
|
Hasil pemeriksaan USG memperlihatkan adanya batu
pada saluran empedu
|
Tidak Sesuai Harapan
|
VV
|
|
Dokter menyimpulkan Ny. Haryani menderita
obstruktif jaundice karena koledokolitiasis
|
Tidak Sesuai Harapan
|
VVV
|
III.
ANALISIS
MASALAH
Masalah 1
Nyonya
Hariyani, wanita berusia 42 tahun, berbadan gemuk mengunjungi dokter keluarga
dengan keluhan mata yang berwarna kekuningan
a. Bagaimana anatomi dan histologi mata normal?
Anatomi mata
normal :

Bola mata berdiameter ±2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga
mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar. Gambar 2.1
menunjukan bagian-bagian yang termasuk ke dalam bola mata, bagian-bagian
tersebut memiliki fungsi berbeda, secara rinci diuraikan sebagai berikut :
- Sklera : Melindungi bola mata dari
kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata
- Otot-otot : Otot-otot yang melekat
pada mata :
a. muskulus rektus superior : menggerakan mata ke atas
b. muskulus rektus inferior : mengerakan mata ke bawah - Kornea : memungkinkan lewatnya
cahaya dan merefraksikan cahaya
- Badan Siliaris : Menyokong lensa dan
mengandung otot yang memungkinkan lensa untuk beroakomodasi, kemudian
berfungsi juga untuk mengsekreskan
aqueus humor
- Iris : Mengendalikan cahaya yang
masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.
- Lensa : Memfokuskan pandangan
dengan mengubah bentuk lensa
- Bintik kuning (Fovea) : Bagian
retina yang mengandung sel kerucut
- Bintik buta : Daerah syaraf optic
meninggalkan bagian dalam bola mata
- Vitreous humor : Menyokong lensa dan
menjaga bentuk bola mata
- Aquous humor : Menjaga bentuk kantong
bola mata
Histologi mata normal :
Bola mata dibagi menjadi 3 lapisan, dari luar ke
dalam yaitu tunica fibrosa, tunica vasculosa, dan tunica nervosa.
1) Tunica Vibrosa
Tunica vibrosa terdiri dari sklera, sklera merupakan lapisan luar yang sangat kuat. Sklera berwarna putih putih, kecuali di depan. Pada lapisan ini terdapat kornea, yaitu lapisan yang berwarna bening dan berfungsi untuk menerima cahaya masuk kemudian memfokuskannya. Untuk melindungi kornea ini, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu basah dan dapat membersihkan dari debu.
Pada batas cornea dan sclera terdapat canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus yang menyerap kembali cairan aquaus humor bola mata.
1) Tunica Vibrosa
Tunica vibrosa terdiri dari sklera, sklera merupakan lapisan luar yang sangat kuat. Sklera berwarna putih putih, kecuali di depan. Pada lapisan ini terdapat kornea, yaitu lapisan yang berwarna bening dan berfungsi untuk menerima cahaya masuk kemudian memfokuskannya. Untuk melindungi kornea ini, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu basah dan dapat membersihkan dari debu.
Pada batas cornea dan sclera terdapat canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus yang menyerap kembali cairan aquaus humor bola mata.
2) Tunica Vasculosa
Tunica vasculosa merupakan bagian tengah bola mata, urutan dari depan ke belakang terdiri dari iris, corpus ciliaris dan koroid.
Koroid merupakan lapisan tengah yang kaya akan pembuluh darah, lapisan ini juga kaya akan pigmen warna. Daerah ini disebut Iris. Bagian depan dari lapisan iris ini disebut Pupil yang terletak di belakang kornea tengah. Pengaruh kerja ototnya yaitu melebar dan menyempitnya bagian ini. Jika Anda masuk ke dalam suatu kamar yang gelap gulita, maka Anda akan berusaha melihat dengan melebarkan mata agar cahaya yang masuk cukup. Pada kondisi ini disebut dengan dilatasi, demikian sebaliknya jika Anda berada pada ruangan yang terlalu terang maka Anda akan berusaha untuk menyempitkan mata karena silau untuk mengurangi cahaya yang masuk yang disebut dengan konstriksi. Pada sebuah kamera, pupil ini diibaratkan seperti diafragma yang dapat mengatur jumlah cahaya yang masuk.
Di sebelah dalam pupil terdapat lensa yang berbentuk cakram otot yang disebut Musculus Siliaris. Otot ini sangat kuat dalam mendukung fungsi lensa mata, yang selalu bekerja untuk memfokuskan penglihatan. Seseorang yang melihat benda dengan jarak yang jauh tidak mengakibatkan otot lensa mata bekerja, tetapi apabila seseorang melihat benda dengan jarak yang dekat maka akan memaksa otot lensa bekerja lebih berat karena otot lensa harus menegang untuk membuat lensa mata lebih tebal sehingga dapat memfokuskan penglihatan pada benda-benda tersebut.
Pada bagian depan dan belakang lensa ini terdapat
rongga yang berisi caira bening yang masing-masing disebut Aqueous Humor
dan Vitreous Humor. Adanya cairan ini dapat memperkokoh kedudukan
bola mata
3) Tunica Nervosa
Tunica nervosa (retina) merupakan reseptor pada mata yang terletak pada bagian belakang koroid. Bagian ini merupakan bagian terdalam dari mata. Lapisan ini lunak, namun tipis, hampir menyerupai lapisan pada kulit bawang. Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk menerima cahaya. Di antara sel-sel tersebut sekitar 100 juta sel merupakan sel-sel batang yang berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel konus (kerucut). Sel-sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan sangat peka pada sedikit cahaya.
1. SEL BATANG tidak dapat membedakan warna, tetapi lebih sensitif terhadap cahaya sehingga sel ini lebih berfungsi pada saat melihat ditempat gelap. Sel batang ini mengandung suatu pigmen yang fotosensitif disebut rhodopsin. Cahaya lemah seperti cahaya bulan pun dapat mengenai rhodopsin. Sehingga sel batang ini diperlukan untuk penglihatan pada cahaya remang-remang.
2. SEL KERUCUT atau cone cell mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaitu iodopsin yang terdiri dari retinen. Terdapat 3 jenis iodopsin yang masing-masing sensitif terhadap cahaya merah, hijau dan biru. Masing-masing disebut iodopsin merah, hijau dan biru. Segala warna yang ada di dunia ini dapat dibentuk dengan mencamputkan ketiga warna tersebut. Sel kerucut diperlukan untuk penglihatan ketika cahaya terang.
Signal listrik dari sel batang dan sel kerucut ini akan di teruskan melalui sinap ke neuron bipolar, kemudian ke neuron ganglion yang akan membentuk satu bundel syaraf yaitu syaraf otak ke II yang menembus coroid dan sclera menuju otak. Bagian yang menembus ini disebut dengan discus opticus, dimana discus opticus ini tidak mengandung sel batang dan sel kerucut, maka cahaya yang jatuh ke discus opticus tidak akan terlihat apa-apa sehingga disebut dengan bintik buta.
3) Tunica Nervosa
Tunica nervosa (retina) merupakan reseptor pada mata yang terletak pada bagian belakang koroid. Bagian ini merupakan bagian terdalam dari mata. Lapisan ini lunak, namun tipis, hampir menyerupai lapisan pada kulit bawang. Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk menerima cahaya. Di antara sel-sel tersebut sekitar 100 juta sel merupakan sel-sel batang yang berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel konus (kerucut). Sel-sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan sangat peka pada sedikit cahaya.
1. SEL BATANG tidak dapat membedakan warna, tetapi lebih sensitif terhadap cahaya sehingga sel ini lebih berfungsi pada saat melihat ditempat gelap. Sel batang ini mengandung suatu pigmen yang fotosensitif disebut rhodopsin. Cahaya lemah seperti cahaya bulan pun dapat mengenai rhodopsin. Sehingga sel batang ini diperlukan untuk penglihatan pada cahaya remang-remang.
2. SEL KERUCUT atau cone cell mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaitu iodopsin yang terdiri dari retinen. Terdapat 3 jenis iodopsin yang masing-masing sensitif terhadap cahaya merah, hijau dan biru. Masing-masing disebut iodopsin merah, hijau dan biru. Segala warna yang ada di dunia ini dapat dibentuk dengan mencamputkan ketiga warna tersebut. Sel kerucut diperlukan untuk penglihatan ketika cahaya terang.
Signal listrik dari sel batang dan sel kerucut ini akan di teruskan melalui sinap ke neuron bipolar, kemudian ke neuron ganglion yang akan membentuk satu bundel syaraf yaitu syaraf otak ke II yang menembus coroid dan sclera menuju otak. Bagian yang menembus ini disebut dengan discus opticus, dimana discus opticus ini tidak mengandung sel batang dan sel kerucut, maka cahaya yang jatuh ke discus opticus tidak akan terlihat apa-apa sehingga disebut dengan bintik buta.
b. Bagaimana
anatomi dan histologi mata kekuningan?
Tidak ada
perubahan anatomi maupun histologi mata akibat terjadinya mata kekuningan atau
sclera ikterus karena pada dasarnya hanya terjadi peningkatan jumlah bilirubin
atau pigmen empedu, yang berwarna kekuningan, pada plasma darah dan cairan
ekstrasel. Karena dibelakang sklera terdapat lapisan choroid yang memiliki
banyak pembuluh darah, peningkatan kadar bilirubun mempengaruhi warna sklera
menjadi kekuningan. Selain dari perubahan warna tersebut tidak terjadi
perubahan anatomi maupun histologi pada mata akibat mata kekuningan.
c. Bagaimana
patofisiologi mata kekuningan?
Jaringan permukaan yang kaya elastin,
seperti sclera dan permukaan bawah lidah, biasanya menjadi kuning pertama kali
akibat terjadinya ikterus. Di bawah sclera terdapat khoroideus, yaitu jaringan
yang kaya akan pembuluh darah. Dari sinilah sclera akan tampak bewarna
kekuningan karena memproyeksikan warna darah yang menjadi kuning akibat adanya
bilirubin terkonjugasi dalam darah. Bilirubin tidak terkonjugasi yang
dihasilkan di limpa akan berikatan dengan protein albumin dalam darah dan
beredar ke seluruh tubuh. Dalam kasus obstructive jaundice/ ikterus
obstruktif menyebabkan terjadinya
hiperbilirubinemia terkonjugasi, dimana bilirubin terkonjugasi akan ikut masuk
ke pembuluh darah (sifat larut dalam air). Hal itu akan menyebabkan darah yang
mengalir akan tercampur dengan bilirubin dan sclera tampak bewarna lebih
kuning. Pada kasus hiperbilirubinemia terkonjugasi biasanya lebih kuning
dibandingkan dengan hiperbilirubinea.
d.Bagaimana
hubungan antara usia dan berat badan dengan keluhan yang dialami?
Usia : Resiko
untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Orang
dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda.
Berat badan (BMI) : Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.
Berat badan (BMI) : Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.
Masalah 2
Warna
air seni Ny. Hariyani berwarna lebih kuning dari biasanya.
a. Apa
komposisi dari air seni ?
Urin normal mengandung sekitar 95%
air. Komposisi lain dalam urin normal adalah bagianpadat yang terkandung
didalam air.
Ini dapat dibedakan berdasarkan
ukuran ataupunkelektrolitanya, diantaranya adalah :
1. Molekul Organik : Memiliki sifat non elektrolit dimana
memiliki ukaran yang reativ besar,didalam urin terkandung : Urea CON2H4 atau
(NH2)2CO, Kreatin, Asam Urat C5H4N4O3,Dan subtansi lainya seperti hormone dan pigmen
yaitu urobilinogen 0,5 mikro mol bahkan dianggap nol)
2. Ion : Sodium (Na+), Potassium
(K+), Chloride (Cl-), Magnesium (Mg2+, Calcium (Ca2+).Dalam Jumlah Kecil :
Ammonium (NH4+), Sulphates (SO42-), Phosphates (H2PO4-, HPO42-,PO43-)
b. Bagaimana
proses terbentuknya air seni?
Mula-mula
darah yang mengandung air, garam, glukosa, urea, asam amino, dan amonia
mengalir ke dalam glomerulus untuk menjalani proses filtrasi. Proses ini
terjadi karena adanya tekanan darah akibat pengaruh dari mengembang dan
mengerutnya arteri yang memanjang menuju dan meninggalkan glomerulus. Akhir
filtrasi dari glomerulus ditampung oleh kapsul Bowman dan menghasilkan filtrat
glomerulus atau urine primer. Secara normal, setiap hari kapsul Bowman dapat
menghasilkan 180 L filtrat glomerulus.
Filtrat
glomerulus atau urine primer masih banyak mengandung zat yang diperlukan tubuh
antara lain glukosa, garam-garam, dan asam amino. Perhatikan Tabel 8.1. Filtrat
glomerulus ini kemudian diangkut oleh tubulus kontortus proksimal. Di tubulus
kontortus proksimal zat-zat yang masih berguna direabsorpsi. Seperti asam amino, vitamin, dan beberapa ion yaitu Na+,
Cl–, HCO3–, dan K+. Sebagian ionion ini diabsorpsi kembali secara transpor
aktif dan sebagian yang lain secara difusi.
Proses reabsorpsi masih tetap berlanjut seiring dengan
mengalirnya filtrat menuju lengkung Henle dan tubulus kontortus distal. Pada
umumnya, reabsorpsi zat-zat yang masih berguna bagi tubuh seperti glukosa dan
asam amino berlangsung di tubulus renalis. Akan tetapi, apabila konsentrasi zat
tersebut dalam darah sudah tinggi, tubulus tidak mampu lagi mengabsorpsi
zat-zat tersebut. Apabila hal ini terjadi, maka zat-zat tersebut akan
diekskresikan bersama urine. Perhatikan Gambar 8.4
untuk lebih memahami mengenai proses reabsorpsi.
Selain
reabsorpsi, di dalam tubulus juga berlangsung sekresi. Seperti K+, H+, NH4+
disekresi dari darah menuju filtrat. Selain itu, obat-obatan seperti penisilin
juga disekresi dari darah. Sekresi
ion hidrogen (H+) berfungsi untuk mengatur pH dalam darah. Misalnya dalam darah
terlalu asam maka ion hidrogen disekresikan ke dalam urine.
Sekresi K+ juga berfungsi untuk menjaga mekanisme homeostasis. Apabila konsentrasi K+ dalam darah tinggi, dapat menghambat rangsang impuls serta menyebabkan kontraksi otot dan jantung menjadi menurun dan melemah. Oleh karena itu, K+ kemudian disekresikan dari darah menuju tubulus renalis dan dieksresikan bersama urine.
Sekresi K+ juga berfungsi untuk menjaga mekanisme homeostasis. Apabila konsentrasi K+ dalam darah tinggi, dapat menghambat rangsang impuls serta menyebabkan kontraksi otot dan jantung menjadi menurun dan melemah. Oleh karena itu, K+ kemudian disekresikan dari darah menuju tubulus renalis dan dieksresikan bersama urine.
Pada saat terjadi proses reabsorpsi dan sekresi di
sepanjang tubulus renalis secara otomatis juga berlangsung pengaturan
konsentrasi pada urine. Sebagai contoh, konsentrasi garam diseimbangkan melalui
proses reabsorpsi garam. Di bagian lengkung Henle terdapat NaCl dalam
konsentrasi tinggi. Keberadaan NaCl ini berfungsi agar cairan di lengkung Henle
senantiasa dalam keadaan hipertonik. Dinding lengkung Henle descending bersifat
permeabel untuk air, akan tetapi impermeabel untuk Na dan urea. Konsentrasi Na
yang tinggi ini menyebabkan filtrat terdorong ke lengkung Henle bagian bawah
dan air bergerak keluar secara osmosis.
Di lengkung Henle bagian bawah, permeabilitas dindingnya berubah. Dinding lengkung Henle bagian bawah menjadi permeabel terhadap garam dan impermeabel terhadap air. Keadaan ini mendorong filtrat untuk bergerak ke lengkung Henle ascending.
Air yang bergerak keluar dari lengkung Henle descending dan air yang bergerak masuk saat di lengkung Henle ascending membuat konsentrasi filtrat menjadi isotonik. Setelah itu, filtrat terdorong dari tubulus renalis menuju duktus kolektivus. Duktus kolektivus bersifat permeabel terhadap urea. Di sini urea keluar dari filtrat secara difusi. Demikian juga dengan air yang bergerak keluar dari filtrat secara osmosis. Keluarnya air ini menyebabkan konsentrasi urine menjadi tinggi.
Dari duktus kolektivus, urine dibawa ke pelvis renalis. Dari pelvis renalis, urine mengalir melalui ureter menuju
vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penyimpanan sementara
bagi urine.
Urine ditampung di dalam kantong kemih (vesica urinaria)
hingga mencapai kurang lebih 300 cc. Kemudian melalui uretra, urine dikeluarkan
dari tubuh. Pengeluaran urine ini diatur oleh otot sfinkter. Perhatikan
Gambar 8.5 mengenai sistem urinaria pada manusia.


Pembentukan
urine dari plasma darah menyebabkan terjadinya banyak perubahan kandungan zat,
seperti yang terlihat pada Tabel 8.3.
Di
dalam urine tidak lagi terdapat protein dan glukosa. Apabila di dalam urine
terdapat senyawa-senyawa tersebut, ini menunjukkan adanya gangguan pada ginjal.
c. Bagaimana
patofisiologi air seni yang lebih kuning dari biasanya
Sejumlah kecil urobilinogen dapat dideteksi dalam urin normal yang
segar. Ekskresi ke urin normal 24 jam adalah 0.5-5.0 µmol. Pada ikterus
hemolitik, banyak bilirubin berlebih dalam plasma masuk ke dalam urin yang mana
meningkatkan jumlah urobilinogen yang terbentuk. Gangguan
ekskresi bilirubin, baik yang disebabkan oleh faktor fungsional maupun
obstruktif, terutama menyebabkan terjadinya hiperbilirubinemia terkonjugasi.
Bilirubin terkonjugasi bersifat larut dalam air, sehingga dapat diekskresi
dalam urine dan menimbulkan bilirubinuria serta urine yang gelap. Banyak urobilinogen yang diabsorbsi dan
urobilinogen yang berlebih diekskresikan dalam urin. Pada ikterus obstruktif
atau hepatoseluler yang berat, bilirubin hanya mencapai usus dalam jumlah
kecil, sedikit urobilinogen yang terbentuk dan urobilinogen tak ditemukan dalam
urin. Timbulnya kembali urobilinogen dalam urin, merupakan tanda
pemulihan kolestasis.




ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق